Oleh Safrudin
Globalisasi mempertinggi arus kompetisi disegala bidang termasuk bidang kesehatan dimana perawat dan bidan terlibat didalamnya. Untuk dapat mempertahankan eksistensinya, maka setiap organisasi dan semua elemen-elemen dalam organisasi harus berupaya meningkatkan mutu pelayanannya secara terus menerus. Sistem pengembangan dan manajemen kinerja klinis (SPMKK) bagi perawat dan bidan terkait erat dan sinkron dengan program jaminan mutu (Quality Assurance). Kecenderungan masa kini dan masa depan menunjukkan bahwa masyarakat semakin menyadari pentingnya peningkatan dan mempertahankan kualitas hidup (quality of life). Oleh karena itu pelayanan kesehatan yang bermutu semakin dicari untk memperoleh jaminan kepastian terhadap mutu pelayanan kesehatan yang diterimanya. Semakin tinggi tingkat pemahaman masyarakat terhadap pentingnya kesehatan untuk mempertahankan kualitas hidup, maka customer akan semakin kritis dalam menerima produk jasa, termasuk jasa pelayanan keperawatan dan kebidanan, oleh karena itu peningkatan mutu kinerja setiap perawat dan bidan perlu dilakukan terus menerus. Proses mutu keperawatan sekarang ini tidak lepas dari peran tokoh Terkenal yang bernama Florence Nightingale, berikut dalam artike ini akan Saya paparkan dari sejarah Florence Nightinge, teori umumnya, definisi dari teori Florence Nightingale, beberapa pendapat tentang Teori Florence Nightingale dan kontribusi Florence Nightingale terhadap Mutu Pelayanan Keperawatan
A. Sejarah Florence Nightingale
Florence Nightingale lahir di Florence, Italia pada 12 Mei 1820 dan diberi nama berdasarkan kota dimana ia dilahirkan. Nama depannya, Florence merujuk kepada kota kelahirannya, Firenze dalam bahasa Italia atau Florence dalam bahasa Inggris. Semasa kecilnya ia tinggal di Lea Hurst, sebuah rumah besar dan mewah milik ayahnya, William Nightingale yang merupakan seorang tuan tanah kaya di Derbyshire, London, Inggris. Sementara ibunya adalah keturunan ningrat dan keluarga Nightingale adalah keluarga terpandang. Florence Nightingale memiliki seorang saudara perempuan bernama Parthenope. Pada masa remaja mulai terlihat perilaku mereka yang kontras dan Parthenope hidup sesuai dengan martabatnya sebagai putri seorang tuan tanah. Pada masa itu wanita ningrat, kaya, dan berpendidikan aktifitasnya cenderung bersenang-senang saja dan malas, sementara Florence lebih banyak keluar rumah dan membantu warga sekitar yang membutuhkan. Perawat pada masa itu perawat dianggap pekerjaan hina karena:
• Perawat disamakan dengan wanita tuna susila atau "buntut" (keluarga tentara yang miskin) yang mengikuti kemana tentara pergi.
• Profesi perawat banyak berhadapan langsung dengan tubuh dalam keadaan terbuka, sehingga dianggap profesi ini bukan profesi sopan wanita baik-baik dan banyak pasien memperlakukan wanita tidak berpendidikan yang berada dirumah sakit dengan tidak senonoh terhadap Perawat di Inggris pada masa itu lebih banyak laki-laki daripada perempuan karena alasan-alasan tersebut di atas.
• Perawat masa itu lebih sering berfungsi sebagai tukang masak.
Nama harum Florence melejit saat pecah perang Krim antara Inggris, Perancis, dan Turki melawan Rusia pada tahun 1854-1856. Saat itu banyak sekali tentara Inggris yang terluka dan dibiarkan terlantar di rumah sakit darurat di medan perang karena tak cukupnya tenaga perawat di tempat itu. Florence dengan tulus dan berani membawa 38 orang perawat ke rumah sakit itu. Selama 21 bulan, ia mengabdi tak kenal lelah merawat, menghibur tentara yang terluka dan mengusahakan perbaikan fasilitas rumah sakit darurat tersebut. Florence tak pernah absen untuk selalu berpatroli menjenguk korban yang terluka bahkan di tengah malam yang dingin. Kedatangan Florence yang berjalan kaki membawa lentera selalu dinantikan para pasien. Florence memperoleh julukan Malaikat dengan Lentera. Berkat pengabdian Florence dan timnya, persentase kematian prajurit yang terluka parah membaik dari 42% menjadi hanya 2%. Bekerja nonstop tak kenal lelah sempat membuat kesehatan Florence memburuk. Ia terkena penyakit demam yang parah. Namun, berkat cinta kasihnya dan kerinduannya untuk meringankan penderitaan orang lain, serta doa restu dari semua orang yang mengenalnya, penyakit tersebut berhasil dikalahkannya dan pengabdian dapat dilanjutkannya. Florence menerima penghargaan dari Ratu Victoria dan rakyat Inggris berupa medali emas berukirkan ”Kebahagiaan dan Cinta Kasih Abadi”. ”Dana Nightingale” yang terkumpul yang sedianya digunakan untuk membuat medali ini ternyata sangat besar jauh di atas target. Florence pun membentuk Yayasan Nightingale yang memperoleh sumbangan dari dari banyak pihak. Dana tersebut digunakan untuk mendirikan sekolah perawat. Pada tahun 1860 Florence menulis buku Catatan tentang Keperawatan (Notes on Nursing) buku setebal 136 halaman ini menjadi buku acuan pada kurikulum di sekolah Florence dan sekolah keperawatan lainnya. Buku ini juga menjadi populer dikalangan orang awam dan terjual jutaan eksemplar diseluruh dunia. Pada tahun 1861 cetakan lanjutan buku ini terbit dengan tambahan bagian tentang perawatan bayi. Beberapa penghargaan yang pernah diperolehnya:
• Pada tahun 1883 Florence di anugrahkan medali Palang Merah Kerajaan (The Royal Red Cross) oleh Ratu Victoria.
• Pada tahun 1907 pada umurnya yang ke 87 tahun Raja Inggris, dihadapan beratus-ratus undangan menganugrahkan Florence Nightingale dengan bintang jasa The Order Of Merit dan Florence Nightingale menjadi wanita pertama yang menerima bintang tanda jasa ini.
• Pada 1908 ia dianugrahkan Honorary Freedom of the City dari kota London. Cinta kasih dan pengabdian tulus Florence mengilhami Henri Dunant untuk mendirikan Palang Merah.
Florence menulis beberapa buku terlaris termasuk buku fenomenal Notes on Nursing. Florence, yang dilahirkan ketika keluarganya sedang bertamasya ke Florence Italia tahun 1820, terus berkarya sampai usia lanjut dan akhirnya meninggal dunia pada tanggal 13 Agustus 1910 dalam usia 90 tahun.
B. Teori Umum Florence Nightingale
Teori Environmental Nightingale yang dicetuskan oleh Florence Nightingale “Ibu dari keperawatan modern” meletakkan keperawatan menjadi sesuatu yang sakral untuk dipenuhi oleh seorang wanita. Teorinya difokuskan pada lingkungan keperawatan, walaupun tema ini tidak pernah dimunculkan di tiap tulisannya, ia menghubungkan kesehatan dengan lima faktor lingkungannya. Nightingale membuat sebuah teori yang dikenal sebagai teori keperawatan modern (modern nursing). Titik berat teori ini adalah pada aspek lingkungan. Nightingale meyakini bahwa kondisi lingkungan yang sehat penting untuk penanganan perawatan yang layak. Komponen lingkungan yang berpengaruh pada kesehatan, antara lain:
1. Udara segar
2. Air bersih
3. Saluran pembuangan yang efesien
4. Kebersihan
5. Cahaya
Aspek lingkungan yang diutamakan Nightingale dalam merawat klien adalah ventilasi yang cukup bagi klien.Ia berkeyakinan bahwa ketersediaan udara segar secara terus-menerus merupakan prinsip utama dalam perawatan. Oleh sebab itu, setiap perawat harus menjaga udara yang harus dihirup klien tetap bersih , sebersih udara luar tanpa harus membuatnya kedinginan. Komponen lain yang tidak kalah penting dalam perawatn klien adalah cahaya matahari. Nightingale yakin sinar matahari dapat member manfaat yang besar bagi kesehatan klien. Karenanya, perawat juga perlu membawa klien berjalan-jalan keluar untuk merasakan sinar matahari selama tidak terdapat kontraindikasi .focus perawatan klien menurut Nightingale adalah pada kebersihan. Ia berpendapat, kondisi kesehatan klien sangat dipengaruhi oleh tingkat kebersihan, baik kebersihan klien, perawat maupun lingkungan.
Selain kelima komponen lingkungan diatas, seorang perawat juga harus memperhatikan kehangatan, ketenangan, dan makanan klien.
Asumsi Utama Teori Nightingale
Nightingale mendefenisikan kesehatan sebagai kondisi sejahtera dan mampu memanfaatkan setiap daya yang dimiliki hingga batas maksimal, sedangkan penyakit merupakan proses perbaikan yang dilakukan tubuh untuk membebaskan diri dari gangguan yang dialami sehingga individu dapat kembali sehat. Prinsip perawatan adalah menjaga agar proses reparative ini tidak terganggu dan tiak menyediakan kondisi yang optimal untuk proses tersebut. Untuk mencapai kondisi kesehatan, perawat harus menggunakan nalarnya, disertai ketekunan dan observasi.
Dengan demikian, kesehatan dapat dipelihara melalui upaya pencegahan penyakit melalui faktor kesehatan lingkungan. Ia menyebut hal ini sebagai health nursing dan membedakannya dengan proper nursing yang berarti merawat klien yang sakit hingga ia dapat bertahan atau setidaknya menjadi lebih baik hingga saat kematiannya.
Menurut Nightingale, lingkungan adalah tatanan eksternal yang memengaruhi sakit dan sehatnya seseorang, termasuk disini makanan klien dan interaksi perawat dengan klien. Jika seseonrang ingin sehat, perawat, alam, dan orang yang bersangkutan harus bekerja sama agar proses reparative dapat berjalan. Hubungan ketiga komponen tersebut dapat digambarkan sebagai berikut.
Teori Nigtingale, keperawatan modern (modern nursing), merupakan langkah awal dalam formalisasi dan pengembangan ilmu keperawatan selanjutnya. Ia telah meletakkan suatu pijakan bagi pengembangan teori keperawatn sesudahnya. Didasari atau tidak, Nightingale telah member pedoman umum bagi perawat dalam merawat klien.Prinsip-prinsip dasar perbaikan lingkungan dan penanganan psikologis terhadap klien dapat diterapkan dengan modifikasi dalam banyak tatanan perawatan kontemporer.Ide-ide Nightingale telah mendorong pemikiran produktif bagi perawat dan profesi keperawatan.
C. Definisi Teori dari Florence Nightingale
Pasien/Klien Seseorang dengan preses vital penyembuhan yang berhadapan dengan penyakit dan memulihkan kesehatan tetapi pasif terhadap pengaruh dari usaha keperawatan. Lingkungan Konsep utama bagi kesehatan adalah ventilasi, kehangatan, cahaya, diet, kebersihan dan ketenangan. Walaupun lingkungan mempunyai kehidupan sosial, emosional, dan aspek fisikal, Nightingale menekankan pada aspek fisiknya. Kesehatan Tetap sehat dan menggunakan stamina tubuh untuk kebutuhan yang luas. Kesehatan merupakan usaha menjaga agar tetap sehat sebagai upaya menghindari penyakit yang berasal dari faktor kesehatan lingkungan. Wabah penyakit adalah proses menyebaran secara alami karena adanya sesuatu yang kurang diperhatikan. Keperawatan Merupakan gambaran jelas dari kondisi optimal guna membantu proses penyembuhan pasien dan proses pencegah dari proses penyebaran melalui suatu tindakan. Subsistem kedua adalah merupakan sistem yang memiliki pengaruh besar yang merupakan manifestasi dari kemampuan dan kegiatan reguler. Hal ini berisikan empat gaya adaptif :
1. Gaya Psikologik
Mengembangkan kebutuhan psikologi dasar tubuh dan bagaimana cara tubuh memperoleh cairan dan elektrolit, akitivitas dan istirahat, sirkulasi dan oksigen, nutrisi dan penyerapan makanan, perlingdungan, perasaan dan neurologi serta fungsi endokrin.
2. Gaya konsep diri.
Termasuk di dalamnya dua komponen yritu : fisik diri, yang mengembangkan indra peraba dan gambaran tubuh serta personal diri yang melibatkan ideal diri, konsistensi diri dan etika moral diri.
3. Gaya aturan fungsi
Adalah yang ditentukan oleh kebutuhan akan interaksi sosial dan mengacu pada performa dalam melakukan aktivitas berdasarkan posisinya dalam kehidupan sosial.
4. Gaya interdependen
Mencakup suatu hubungan dengan orang lain yang bertentang dan mendukung sistem yang membutuhkan pertolongan, kasih sayang dan perhatian
D. Beberapa pendapat mengenai Konsep Dasar Keperawatan Florence Nightingale
Penulis kontemporer mulai menggali hasil pekerjaan Florence Nightingale sebagai sesuatu yang mempunyai potensi menjadi teori dan model konseptual dari keperawatan (Meleis, 1985, Torres, 1986; Marriner-Toomey, 1994; Chin and Jacobs, 1995). Meleis (1985) mencatat bahwa konsep Nightingale menempatkan lingkungan sebagai fokus asuhan keperawatan dan perhatian dimana perawat tidak perlu memahami seluruh proses penyakit merupakan proses awal untuk memisahkan antara profesi keperawatan dan kedokteran. Nightingale tidak memandang perawat secara sempit yang hanya sibuk dengan masalah pemberian obat dan pengobatan, tetapi lebih berorientrasi pada pemberian udara, lampu, kenyamanan lingkungan, kebersihan, ketenangan, dan nutrisi yang adekuat (Nightingale,1860; Torres, 1986). Melalui observasi dan pengumpulan data Nightingale menghubungkan antara status kesehatan klien dengan faktor lingkungan dan sebgai hasil yang menimbulkan perbaikan kondisi hygiene dan sanitasi selama perang Crimean. Torres (1986) mencatat bahwa Nightingale memberikan konsep dan penawaran yang dapat divalidasi memberikan dan digunakan untuk menjalankan praktik keperawatan. Nightingale dalam teori deskripsinya memberikan cara berfikir tentang keperawatan dan kerangka rujukan yang berfokus pada klien dan lingkungan (Torres, 1986). Surat Nightingale dan tulisan tangannya menuntun perawat untuk bekerja atas nama klien. Marriner-Tomey, (1994), prinsipnya mencakup bidang pelayanan, penelitian dan pendidikan . hal paling penting adalah konsep dan prinsip yang membentuk dan melingkupi praktik keperawatan . Nightingale berfikir dan menggunakan proses keperawatan. Ia mencatat bahwa observasi (pengkajian) bukan demi berbagai informasi/fakta yang mencurigakan, tetapi demi menyelamatkan hidup dan meningkatkan kesehatan dan keamanan.
E. Kontribusi Florence Nightingale terhadap Mutu Pelayanan Keperawatan
Menjaga mutu pelayanan kesehatan adalah suatu upaya yang dilaksanakan berkesinambungan secara sistematis, objektif, dan terpadu dalam menetapkan masalah dan mutu pelayan kesehatan berdasarkan standar yang ditetapkan, menetapkan dan melaksanakan cara penyelesaian masalah sesuai dengan kemampuan yang tersedia, serta menilai hasil yang dicapai dan menyusun serta tindak lanjut untuk meningkatkan mutu pelayanan ksehatan (Azwar,1996) Empat prinsip utama dalam menjaga dan meningkatkan mutu keperawatan adalah : 1. Fokus pada klien, 2. Fokus pada sistem dan proses, 3. Fokus pada keputusan berdasarkan data, 4. Fokus pada partisipasi dari tim kerja
Florence Nightingale pada tahun 1858, telah berupaya memperbaiki kondisi pelayayanan keperawatan yang diberikan kepada serdadu pada perang Krimen. Dengan terjadinya perubahan diberbagai aspek kehidupan keperawatan pada saat ini telah berkembang menjadi suatu profesi yang memiliki keilmuan unik yang menghasilkan peningkatan minat dan perhatian diantara anggotanya dalam meningkatkan pelayanannya.Perubahan yang ada bisa digambarkan pada sejarah saat perang tersebut berkat pengabdian Florence dan timnya, persentase kematian prajurit yang terluka parah membaik dari 42% menjadi hanya 2%. (http://lifestyle.iloveindia.com)
Florence juga membuat standar pada pendidikan keperawatan serta standar pelaksanaan asuhan keperawatan yang efesien. Beliau juga membedakan praktek keperawatan dengan kedokteran dan perbedaan perawatan pada orang yang sakit dengan yang sehat.
Torres (1986) mencatat bahwa Nightingale memberikan konsep dan penawaran yang dapat divalidasi memberikan dan digunakan untuk menjalankan praktik keperawatan.
Nigtingale, menindaklanjuti kegiatannya dengan menempatkan sebuah konsep yaitu keperawatan modern (modern nursing), merupakan langkah awal dalam formalisasi dan pengembangan ilmu keperawatan selanjutnya. Ia telah meletakkan suatu pijakan bagi pengembangan teori keperawatan sesudahnya. Didasari atau tidak, Nightingale telah member pedoman umum bagi perawat dalam merawat klien. Prinsip-prinsip dasar perbaikan lingkungan dan penanganan psikologis terhadap klien dapat diterapkan dengan modifikasi dalam banyak tatanan perawatan kontemporer. Ide-ide Nightingale telah mendorong pemikiran produktif bagi perawat dan profesi keperawatan.(Ahmadi, 2008)
Daftar Pustaka
1. Asmadi. 2008. Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta: EGC
2. Azwar Azrul. 1996. Menjaga Mutu Pelayanan Kesehatan, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan
3. Florence Nightingale Biography; http://lifestyle.iloveindia.com/lounge/florence-nightingale-biography-10049.html
4. Marriner-Tomey. 1994. Nursing Theorists and Their Work. (1994).Philladelphia: C.V. Mosby Company
5. Meleis, Afaf I. (1985). Theoretical nursing: Development and progress. Philadelphia: J. B. Lippincott
6. Potter dan Perry. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan, Konsep, Proses & Praktik. Jakarta: EGC.
7. Wiyono, Djoko. 2000. Manajemen Mutu Pelayanan Kesehatan. Vol 1. Surabaya: Airlangga University Press
Selasa, 07 Juni 2011
Manajemen Kolaborasi Penanganan Pasien Gangguan Jiwadi Rumah Sakit
by Mariyono Sw – PSIK FK UGM
Abtrak
Gangguan jiwa merupakan kondisi yang bersifat multifaktorial apabila dilihat dari penyebab maupun maupun dari gejala dan respon yang muncul. Kenyataan tersebut mendasari bahwa pasien gangguan jiwa memerlukan penanganan yang komprehensif dari tim kesehatan yang bersifat multidisiplin. Upaya penanganan kesehatan komprehensif bagi pasien gangguan jiwa di rumah sakit lebih tepat dikemas dalam suatu manajemen yang disebut dengan manajemen kolaborasi.
Manajemen kolaborasi penanganan pasien gangguan jiwa merupakan upaya pelayanan kesehatan kepada pasien gangguan jiwa yang melibatkan tim kesehatan termasuk perawat dan dokter. Dalam manajemen kolaborasi memungkinkan perawat dan dokter saling bekerja sama dalam pemberian pelayanan kesehatan kepada pasien gangguan jiwa namun tetap dalam koridor keilmuan serta kompetensi masing-masing dan saling menghormati serta menghargai. Manajemen kolaborasi mencakup tiga area intevensi yaitu prevensi primer, prevensi sekunder dan prevensi tersier yang teintegrasi dalam suatu pendekatan model yaitu model stress adaptasi dari Stuart-Sundeen sebagai dasar keilmuannya bagi perawat.
Model stress adaptasi, memfasilitasi perawat dalam mengembangkan manajemen kolaborasi berdasarkan tahapan penanganan pasien gangguan jiwa, yaitu krisis, akut, pemeliharaan dan peningkatan kesehatan. Setiap tahapan penanganan pasien gangguan jiwa menggambarkan tentang kondisi klien, serta intervensi yang harus diberikan kepada pasien dan mewajibkan perawat untuk mengembangkan kolaborasi dengan tim kesehatan lain.
Implikasi dari manajemen kolaborasi penanganan pasien gangguan jiwa mencakup : implikasi terhadap pelayanan, pendidikan dan riset bersama. Implikasi terhadap pelayanan diataranya penanganan kasus bersama dan presentasi kasus bersama. Implikasi terhadap pendidikan adalah proses pembelajaran kolaboratif yang meliputi proses bimbingan bersama, presentasi kasus bersama. Implikasi terhadap riset adalah pelaksanaan riset bersama.
Hasil pelaksanaan manajemen kolaborasi penangan pasien gangguan jiwa masih dalam proses pengembangan.
Abtrak
Gangguan jiwa merupakan kondisi yang bersifat multifaktorial apabila dilihat dari penyebab maupun maupun dari gejala dan respon yang muncul. Kenyataan tersebut mendasari bahwa pasien gangguan jiwa memerlukan penanganan yang komprehensif dari tim kesehatan yang bersifat multidisiplin. Upaya penanganan kesehatan komprehensif bagi pasien gangguan jiwa di rumah sakit lebih tepat dikemas dalam suatu manajemen yang disebut dengan manajemen kolaborasi.
Manajemen kolaborasi penanganan pasien gangguan jiwa merupakan upaya pelayanan kesehatan kepada pasien gangguan jiwa yang melibatkan tim kesehatan termasuk perawat dan dokter. Dalam manajemen kolaborasi memungkinkan perawat dan dokter saling bekerja sama dalam pemberian pelayanan kesehatan kepada pasien gangguan jiwa namun tetap dalam koridor keilmuan serta kompetensi masing-masing dan saling menghormati serta menghargai. Manajemen kolaborasi mencakup tiga area intevensi yaitu prevensi primer, prevensi sekunder dan prevensi tersier yang teintegrasi dalam suatu pendekatan model yaitu model stress adaptasi dari Stuart-Sundeen sebagai dasar keilmuannya bagi perawat.
Model stress adaptasi, memfasilitasi perawat dalam mengembangkan manajemen kolaborasi berdasarkan tahapan penanganan pasien gangguan jiwa, yaitu krisis, akut, pemeliharaan dan peningkatan kesehatan. Setiap tahapan penanganan pasien gangguan jiwa menggambarkan tentang kondisi klien, serta intervensi yang harus diberikan kepada pasien dan mewajibkan perawat untuk mengembangkan kolaborasi dengan tim kesehatan lain.
Implikasi dari manajemen kolaborasi penanganan pasien gangguan jiwa mencakup : implikasi terhadap pelayanan, pendidikan dan riset bersama. Implikasi terhadap pelayanan diataranya penanganan kasus bersama dan presentasi kasus bersama. Implikasi terhadap pendidikan adalah proses pembelajaran kolaboratif yang meliputi proses bimbingan bersama, presentasi kasus bersama. Implikasi terhadap riset adalah pelaksanaan riset bersama.
Hasil pelaksanaan manajemen kolaborasi penangan pasien gangguan jiwa masih dalam proses pengembangan.
Sabtu, 30 April 2011
The Time
Waktu....... Hem.. kita memiliki keterbatasan dalam hidup untuk yang satu ini, kita tidak akan pernah bisa kembali seperti sedia kala. waktu yang telah berlalu akan menjadi kenangan dan sejarah dalam kehidupan kita di dunia untuk sementara.
Ada masa yang akan kita lewati ketika waktu di dunia ini memang benar-benar akan berhenti atas kehendaknya. dimana di masa ini kita tidak akan bisa berbuat apa-apa lagi dengan menggunakan semua yang telah Tuhan berikan kepada kita pada semua anggota bagian tubuh kita. Adakah manusia yang bisa bertahan,menghindari,bahkan sembunyi sekalipun di dalam gua yang tidak pernah dijamah manusia, menutup diri sehingga tidak ada seorangpun tahu. .......
Oh waktu...
Siapa manusia yang tidak pernah berhadapan dengan yang satu ini. semua orang pasti tidak bisa menghindar. Hanya saja, Apakah manusia bisa memanfaatkan waktu ini dengan sebaik-baiknya atau tidak?
Andaikan saja ada yang bisa menghindar? ............... hem kayaknya Gak ada deh.
Apa yang akan anda perbuat dengan waktu ini sehingga anda bisa mengelola waktu dengan baik? Tuliskanlah 10 hal untuk mengisi waktu sehingga akan bernilai dihadapan yang maha kuasa kelak:
1...............................................................
2. .............................................................
3...............................................................
4...............................................................
5...............................................................
6...............................................................
7. .............................................................
8...............................................................
9 ..............................................................
10. ............................................................
kirim jawaban Anda ke email saya /melalui facebook mysafrudin@gmail.com
Ada masa yang akan kita lewati ketika waktu di dunia ini memang benar-benar akan berhenti atas kehendaknya. dimana di masa ini kita tidak akan bisa berbuat apa-apa lagi dengan menggunakan semua yang telah Tuhan berikan kepada kita pada semua anggota bagian tubuh kita. Adakah manusia yang bisa bertahan,menghindari,bahkan sembunyi sekalipun di dalam gua yang tidak pernah dijamah manusia, menutup diri sehingga tidak ada seorangpun tahu. .......
Oh waktu...
Siapa manusia yang tidak pernah berhadapan dengan yang satu ini. semua orang pasti tidak bisa menghindar. Hanya saja, Apakah manusia bisa memanfaatkan waktu ini dengan sebaik-baiknya atau tidak?
Andaikan saja ada yang bisa menghindar? ............... hem kayaknya Gak ada deh.
Apa yang akan anda perbuat dengan waktu ini sehingga anda bisa mengelola waktu dengan baik? Tuliskanlah 10 hal untuk mengisi waktu sehingga akan bernilai dihadapan yang maha kuasa kelak:
1...............................................................
2. .............................................................
3...............................................................
4...............................................................
5...............................................................
6...............................................................
7. .............................................................
8...............................................................
9 ..............................................................
10. ............................................................
kirim jawaban Anda ke email saya /melalui facebook mysafrudin@gmail.com
Selasa, 15 Maret 2011
Sistem Penugasan Dalam Manajemen Ketenagaan Keperawatan
Prinsip pemilihan metode penugasan adalah : jumlah tenaga, kualifikasi staf dan klasifikasi pasien. Adapun jenis-jenis metode penugasan yang berkembang saat ini adalah sebagai berikut :
1. Metode Fungsional
Metode fungsional dilaksanakan oleh perawat dalam pengelolaan asuhan keperawatan sebagai pilihan utama pada saat perang dunia kedua. Pada saat itu karena masih terbatasnya jumlah dan kemampuan perawat maka setiap perawat hanya melakukan satu sampai dua jenis intervensi, misalnya merawat luka kepada semua pasien di bangsal.
Kelebihan :
a. Manajemen klasik yang menekankan efisiensi, pembagian tiugas yang jelas dan pengawasan yang baik.
b. Sangat baik untuk Rumah Sakit yang kekurangan tenaga.
c. Perawat senior menyibukkan diri dengan tugas manajerial, sedangkan perawat pasien diserahkan kepada perawat junior dan atau belum berpengalaman.
Kelemahan :
a. Tidak memberikan kepuasan pada pasien maupun perawat.
b. Pelayanan keperawatan terpisah-pisah, tidak dapat menerapkan proses keperawatan.
c. Persepsi perawat cenderung kepada tindakan yang berkaitan dengan ketrampilan saja.
2. Metode Perawatan Tim
Metode pemberian asuhan keperawatan dimana seorang perawat profesional memimpin sekelompok tenaga keperawatan dengan berdasarkan konsep kooperatif & kolaboratif.
Tujuan Metode Tim :
a. Memfasilitasi pelayanan keperawatan yang komprehensif.
b. Menerapkan penggunaan proses keperawatan sesuai standar.
c. Menyatukan kemampuan anggota tim yang berbeda-beda
Konsep Metode Tim :
a. Ketua tim sebagai perawat profesional harus mampu menggunakan berbagai teknik kepemimpinan.
b. Pentingnya komunikasi yang efektif agar kontinuitas rencana keperawatan terjamin.
c. Anggota tim harus menghargai kepemimpinan ketua tim.
d. Peran kepala ruang penting dalam model tim. Model tim akan berhasil baik jika didukung oleh kepala ruang.
Kelebihan :
a. Memungkinkan pelayanan keperawatan yang menyeluruh.
b. Mendukung pelaksanaan proses keperawatan.
c. Memungkinkan komunikasi antar timsehingga konflik mudah diatasi dan memberikan kepuasan kepada anggota tim.
Kelemahan :
a. Komunikasi antar anggota tim terbentuk terutama dalam bentuk konferensi tim, yang biasanya membutuhkan waktu dimana sulit untuk melaksanakan pada waktu-waktu sibuk (memerlukan waktu ).
b. Perawat yang belum terampil & kurang berpengalaman cenderung untuk bergantung/berlindung kepada perawat yang mampu.
c. Jika pembagian tugas tidak jelas, maka tanggung jawab dalam tim kabur
3. Metode Primer
Metode penugasan dimana satu orang perawat bertanggung jawab penuh selama 24 jam terhadap asuhan keperawatan pasien mulai dari masuk sampai keluar rumah sakit. Mendorong praktek kemandirian perawat, ada kejelasan antara pembuat perencana asuhan dan pelaksana. Metode primer ini ditandai dengan adanya keterkaitan kuat dan terus menerus antara pasien dengan perawat yang ditugaskan untuk merencanakan, melakukan, dan koordinasi asuhan keperawatan selama pasien dirawat.
Konsep dasar metode primer :
a. Ada tanggungjawab dan tanggunggugat
b. Ada otonomi
c. Ketertiban pasien dan keluarga
Kelebihannya :
a. Model praktek professional
b. Bersifat kontinuitas dan komprehensif
c. Perawat primer mendapatkan akontabilitas yang tinggi terhadap hasil dan memungkinkan pengembangan diri.
d. Klien/keluarga lebih mengenal siapa yang merawatnya
Kelemahannya :
a. Hanya dapat dilakukan oleh perawat yang memiliki pengalaman dan pengetahuan yang memadai dengan kriteria asertif, self direction, kemampuan mengambil keputusan yang tepat, menguasai keperawatan klinik, akontable serta mampu berkolaborasi dengan berbagai disiplin.
b. Biaya lebih besar
4. Metode Kasus
Setiap pasien ditugaskan kepada semua perawat yang melayani seluruh kebutuhannya pada saat ia dinas. Pasien akan dirawat oleh perawat yang berbeda untuk setiap shift dan tidak ada jaminan bahwa pasien akan dirawat oleh orang yang sama pada hari berikutnya. Metode penugasan kasus biasa diterapkan satu pasien satu perawat, umumnya dilaksanakan untuk perawat privat atau untuk perawatan khusus seperti : isolasi, intensive care.
Kelebihan :
a. Perawat lebih memahami kasus per kasus
b. Sistem evaluasi dari manajerial menjadi lebih mudah
Kekurangan :
a. Belum dapatnya diidentifikasi perawat penanggungjawab.
b. Perlu tenaga yang cukup banyak dan mempunyai kemampuan dasar yang sama.
1. Metode Fungsional
Metode fungsional dilaksanakan oleh perawat dalam pengelolaan asuhan keperawatan sebagai pilihan utama pada saat perang dunia kedua. Pada saat itu karena masih terbatasnya jumlah dan kemampuan perawat maka setiap perawat hanya melakukan satu sampai dua jenis intervensi, misalnya merawat luka kepada semua pasien di bangsal.
Kelebihan :
a. Manajemen klasik yang menekankan efisiensi, pembagian tiugas yang jelas dan pengawasan yang baik.
b. Sangat baik untuk Rumah Sakit yang kekurangan tenaga.
c. Perawat senior menyibukkan diri dengan tugas manajerial, sedangkan perawat pasien diserahkan kepada perawat junior dan atau belum berpengalaman.
Kelemahan :
a. Tidak memberikan kepuasan pada pasien maupun perawat.
b. Pelayanan keperawatan terpisah-pisah, tidak dapat menerapkan proses keperawatan.
c. Persepsi perawat cenderung kepada tindakan yang berkaitan dengan ketrampilan saja.
2. Metode Perawatan Tim
Metode pemberian asuhan keperawatan dimana seorang perawat profesional memimpin sekelompok tenaga keperawatan dengan berdasarkan konsep kooperatif & kolaboratif.
Tujuan Metode Tim :
a. Memfasilitasi pelayanan keperawatan yang komprehensif.
b. Menerapkan penggunaan proses keperawatan sesuai standar.
c. Menyatukan kemampuan anggota tim yang berbeda-beda
Konsep Metode Tim :
a. Ketua tim sebagai perawat profesional harus mampu menggunakan berbagai teknik kepemimpinan.
b. Pentingnya komunikasi yang efektif agar kontinuitas rencana keperawatan terjamin.
c. Anggota tim harus menghargai kepemimpinan ketua tim.
d. Peran kepala ruang penting dalam model tim. Model tim akan berhasil baik jika didukung oleh kepala ruang.
Kelebihan :
a. Memungkinkan pelayanan keperawatan yang menyeluruh.
b. Mendukung pelaksanaan proses keperawatan.
c. Memungkinkan komunikasi antar timsehingga konflik mudah diatasi dan memberikan kepuasan kepada anggota tim.
Kelemahan :
a. Komunikasi antar anggota tim terbentuk terutama dalam bentuk konferensi tim, yang biasanya membutuhkan waktu dimana sulit untuk melaksanakan pada waktu-waktu sibuk (memerlukan waktu ).
b. Perawat yang belum terampil & kurang berpengalaman cenderung untuk bergantung/berlindung kepada perawat yang mampu.
c. Jika pembagian tugas tidak jelas, maka tanggung jawab dalam tim kabur
3. Metode Primer
Metode penugasan dimana satu orang perawat bertanggung jawab penuh selama 24 jam terhadap asuhan keperawatan pasien mulai dari masuk sampai keluar rumah sakit. Mendorong praktek kemandirian perawat, ada kejelasan antara pembuat perencana asuhan dan pelaksana. Metode primer ini ditandai dengan adanya keterkaitan kuat dan terus menerus antara pasien dengan perawat yang ditugaskan untuk merencanakan, melakukan, dan koordinasi asuhan keperawatan selama pasien dirawat.
Konsep dasar metode primer :
a. Ada tanggungjawab dan tanggunggugat
b. Ada otonomi
c. Ketertiban pasien dan keluarga
Kelebihannya :
a. Model praktek professional
b. Bersifat kontinuitas dan komprehensif
c. Perawat primer mendapatkan akontabilitas yang tinggi terhadap hasil dan memungkinkan pengembangan diri.
d. Klien/keluarga lebih mengenal siapa yang merawatnya
Kelemahannya :
a. Hanya dapat dilakukan oleh perawat yang memiliki pengalaman dan pengetahuan yang memadai dengan kriteria asertif, self direction, kemampuan mengambil keputusan yang tepat, menguasai keperawatan klinik, akontable serta mampu berkolaborasi dengan berbagai disiplin.
b. Biaya lebih besar
4. Metode Kasus
Setiap pasien ditugaskan kepada semua perawat yang melayani seluruh kebutuhannya pada saat ia dinas. Pasien akan dirawat oleh perawat yang berbeda untuk setiap shift dan tidak ada jaminan bahwa pasien akan dirawat oleh orang yang sama pada hari berikutnya. Metode penugasan kasus biasa diterapkan satu pasien satu perawat, umumnya dilaksanakan untuk perawat privat atau untuk perawatan khusus seperti : isolasi, intensive care.
Kelebihan :
a. Perawat lebih memahami kasus per kasus
b. Sistem evaluasi dari manajerial menjadi lebih mudah
Kekurangan :
a. Belum dapatnya diidentifikasi perawat penanggungjawab.
b. Perlu tenaga yang cukup banyak dan mempunyai kemampuan dasar yang sama.
Minggu, 30 Januari 2011
MANAJEMEN ASUHAN KEPERAWATAN
Manajemen asuhan keperawatan yang baik sangat dibutuhkan dalam memberikan asuhan keperawatan kepada klien secara sistematis dan terorganisir. Manajemen asuhan keperawatan merupakan pengaturan sumber daya dalam menjalankan kegiatan keperawatan dengan menggunakan metoda proses keperawatan untuk memenuhi kebutuhan klien atau menyelesaikan masalah klien (Keliat, 2000). Tiga komponen penting dalam manajemen asuhan keperawatan yaitu manajemen sumber daya manusia (perawat) dengan menggunakan sistem pengorganisasian pekerjaan perawat (asuhan keperawatan) dan sistem klasifikasi kebutuhan klien dalam metoda pemberian asuhan keperawatan yaitu proses keperawatan.
Proses keperawatan adalah suatu pendekatan penyelesaian masalah yang sistematis dalam pemberian asuhan keperawatan. Kebutuhan dan masalah klien merupakan titik sentral dalam proses penyelesaian masalah ini.
Menurut Craven dan Hirnle (2000) proses keperawatan merupakan suatu panduan untuk memberikan asuhan keperawatan professional, baik untuk individu, kelompok, keluarga dan komunitas. Berdasarkan prinsip inilah, tim pengembang modul ini menyusun pedoman pemberian asuhan keperawatan di ruang MPKP yang dapat diterapkan baik pada individu pasien, kelompok pasien, individu keluarga, dan kelompok keluarga pasien.
Selanjutnya, Craven dan Hirnle (2000) menyatakan bahwa proses keperawatan memiliki enam fase yaitu: pengkajian, diagnosa, tujuan, rencana tindakan, implementasi, dan evaluasi.
Contoh Model Praktek Keperawatan Profesional di Badan Pelayanan Kesehatan Jiwa dapat didownload disini
Proses keperawatan adalah suatu pendekatan penyelesaian masalah yang sistematis dalam pemberian asuhan keperawatan. Kebutuhan dan masalah klien merupakan titik sentral dalam proses penyelesaian masalah ini.
Menurut Craven dan Hirnle (2000) proses keperawatan merupakan suatu panduan untuk memberikan asuhan keperawatan professional, baik untuk individu, kelompok, keluarga dan komunitas. Berdasarkan prinsip inilah, tim pengembang modul ini menyusun pedoman pemberian asuhan keperawatan di ruang MPKP yang dapat diterapkan baik pada individu pasien, kelompok pasien, individu keluarga, dan kelompok keluarga pasien.
Selanjutnya, Craven dan Hirnle (2000) menyatakan bahwa proses keperawatan memiliki enam fase yaitu: pengkajian, diagnosa, tujuan, rencana tindakan, implementasi, dan evaluasi.
Contoh Model Praktek Keperawatan Profesional di Badan Pelayanan Kesehatan Jiwa dapat didownload disini
Rabu, 26 Januari 2011
KEPEMIMPINAN TRANSAKSIONAL DAN TRANFORMATIONAL
Kepemimpinan Transaksional versus translasi Outhwaite (2003) mengutip definisi dari kepemimpinan transaksional dan transformasional diasumsikan oleh Bass pada tahun 1990. kepemimpinan transaksional melibatkan keterampilan yang dibutuhkan dalam tiap hari efektif untuk menjalankan tim. Namun, kepemimpinan transformasional melibatkan bagaimana supaya tim terpadu bekerja sama dan melakukan pendekatan inovasi kepada mereka untuk pekerjaan (Outhwaite, 2003). Sebagai contoh, seorang pemimpin dapat memberdayakan anggota tim dengan memberikan kesempatan kepada individu-individu untuk memimpin aspek-aspek tertentu dari proyek berdasarkan bidang keahlian mereka. Hal ini akan mendorong pengembangan keterampilan kepemimpinan individu. Selain itu, pemimpin ha
rus mengeksplorasi dan mengidentifikasi hambatan konflik ketika mereka muncul, dan kemudian bekerja sama dengan tim untuk mengatasinya (Outhwaite, 2003). Selain itu, pemimpin harus tetap menjadi bagian dari tim, berbagi dalam pekerjaan, sehingga dekat dengan kegiatan karyawan dan mampu memahami perspektif karyawan (Outhwaite, 2003). untuk mengetahui kehatian-hatian seorang karyawan juga perlu dilakukan test sehingga kita bisa menentukan jenis pekerjaan apa yang akan diberikan kepada karyawan ikuti test ini test kepribadian
Selengkapnya download di kepemimpinan transaksional dan transformational
rus mengeksplorasi dan mengidentifikasi hambatan konflik ketika mereka muncul, dan kemudian bekerja sama dengan tim untuk mengatasinya (Outhwaite, 2003). Selain itu, pemimpin harus tetap menjadi bagian dari tim, berbagi dalam pekerjaan, sehingga dekat dengan kegiatan karyawan dan mampu memahami perspektif karyawan (Outhwaite, 2003). untuk mengetahui kehatian-hatian seorang karyawan juga perlu dilakukan test sehingga kita bisa menentukan jenis pekerjaan apa yang akan diberikan kepada karyawan ikuti test ini test kepribadian
Selengkapnya download di kepemimpinan transaksional dan transformational
Rabu, 24 November 2010
TEORI MANAJEMEN KEPERAWATAN
Manajemen dan kepemimpinan bisa diartikan sebagai suatu kegiatan yang berarti supervisi, namun demikian fungsi manajemen sangat bermakna luas. Sebagai seorang manajer, Anda harus menguasai tentang bagaimana cara memimpin, memandu, mengelola dan mengarahkan orang lain untuk menuju sebuah tujuan yang hendak Anda capai. tujuan yang hendak anda capai tentunya dalam konteks ini adalah pelayanan keperawatan dalam upaya meningkatkan asuhan keperawatan kepada pasien yang menjadi mitra kita dimana dalam memberikan asuhan keperawatan untuk mencapai hasil kepada tingkat kesehatan yang lebih baik.
ILMU MANAJEMEN
Tokoh yang paling terkenal dalam dunia ilmu manajemen adalah Frederick W. Taylor, di tahun 1990an, dia berpendapat bahwa teori manajemen seperti layaknya sebuah mesin Fokus utama pendapatnya adalah produksi yang efisien dan cepat. Dorongan atau motivasi dan manajemen sangat dipengaruhi oleh kepuasan dalam bekerjasama untuk me ningkatkan produksi.
ILMU MANAJEMEN
Tokoh yang paling terkenal dalam dunia ilmu manajemen adalah Frederick W. Taylor, di tahun 1990an, dia berpendapat bahwa teori manajemen seperti layaknya sebuah mesin Fokus utama pendapatnya adalah produksi yang efisien dan cepat. Dorongan atau motivasi dan manajemen sangat dipengaruhi oleh kepuasan dalam bekerjasama untuk me ningkatkan produksi.
Langganan:
Postingan (Atom)
